Candi Borobudur dan sejarahnya
nasionalisme.co

Menguak Asal Usul Candi Borobudur yang Kaya Akan Nilai Historis

Posted on

Candi Borobudur – Menguak Asal Usul Candi Borobudur yang Kaya Akan Nilai HistorisMenguak Asal Usul Candi Borobudur yang Kaya Akan Nilai HistorisBelum banyak diketahui mengenai asal – usul Candi Borobudur. Padahal hingga kini bangunannya yang megah masih bisa kita kunjungi dan lihat dengan mudah. Sayangnya, tidak semua orang mau meluangkan waktu untuk melihat kembali apa yang menjadi peninggalan sejarah. Termasuk Candi Borobudur ini.

Candi Borobudur dan sejarahnya
nasionalisme.co

Tidak ada yang tahu pasti tentang hal – hal yang ada “di balik layar” Candi Borobudur ini. Siapa yang memerintahkan pembangunan candi, bagaimana awal mula ide ini muncul dan cerita lain yang turut menjadi bagian dari sejarah terbentuknya Candi Borobudur.

Hal ini pula lah yang akhirnya mendorong kami untuk mengulas dan membeberkan rahasia yang selama ini tersembunyi sehubungan dengan adanya Candi Borobudur. Sangat disayangkan jika kita, generasi penerus bangsa tidak mengetahui tentang peninggalan nenek moyang ini.

Candi Borobudur merupakan candi Buddha yang terletak di kecamatan Borobudur, kabupaten Magelang. Tepatnya ada di sekitar 15 KM arah selatan kota Magelang. Menariknya, Candi Borobudur ini terletak di dataran berbukit dimana di sekelilingnya terdapat gunung. Gunung – gunung yang ada di sekeliling candi adalah Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Menilik Asal-Usul Didirikannya Borobudur

Asal-Usul Borobudur
pengetahuanjitu.com

Ahli sejarawan memperkirakan bahwa candi ini dibangun sekitar tahun 800 M. Hal ini berdasarkan temuan pigura asli reliTidak ada yang tahu pasti tentang hal ef kaki candi atau Karwa Wibhangga yang di atasnya memuat tulisan perihal ini. Terdapat huruf pallawa pada pigura ini, sedangkan huruf pallawa adalah huruf yang digunakan masyarakat pada abad ke 8 M. Hal ini diperkuat dengan adanya kecocokan dengan bukti lain yang juga ditemukan.

Pada abad 8 M Wangsa kerajaan Buddha, Wangsa Syailendra tengah mengalami masa kejayaan. Tidak sedikit candi – candi berukuran kecil yang berhasil di temukan di sekitar kaki dan lereng gunung. Candi – candi ini mengelilingi Candi Borobudur dan menjadi peninggalan Wangsa Syailendra, penganut agama Buddha Mahayana. Adanya bukti – bukti ini membuat para ahli menyimpulkan bahwa Candi Borobudur didirikan pada abad ke 800 M, oleh Wangsa Syailendra.

Sedangkan mengenai tahap – tahap pembangunan candi dapat diidentifikasi melalui penemuan serat dan corak batu yang dijadikan bahan untuk membangun candi. Dari serat, corak bebatuan dan prasasti yang ada, diperkirakan Wangsa Syailendra membangun Candi Borobudur dalam kurun waktu 50 tahun. Terdapat beberapa proses tahapan yang telah dilakukan oleh Syailendra dalam membangun candi.

  • Tahap Pertama ini belum dapat disimpulkan sebagai asal usul candi, hal ini karena pada awal pembangunannya, tatanan susun bertingkat dirancang dengan bentuk piramida bertangga. Namun sepertinya susunan ini dibongkar kembali karena kesalahan rancangan. Kesimpulan ini diambil dari analisis karbon yang dilakukan.
  • Tahap kedua adalah memperlebar pondasi candi. Pelebaran pondasi ini dilakukan dengan menambahkan dua buah tangga persegi dan satu buah tangga berbentuk lingkaran. Tangga atau undak ini selanjutnya diberi stupa induk besar.
  • Tahap ketiga, dilakukan dengan membongkar undakan yang sebelumnya dibuat pada tahap kedua. Undakan atau tangga lingkaran ini kemudian dibuat lagi dengan 3 buah undak lingkaran. Karena memiliki 3 undak, dipasanglah beberapa stupa pada setiap puncak undak – undak ini. Dan salah satunya adalah stupa berukuran besar (bagian tengah).
  • Tahap keempat, dimana kemungkinan terdapat perubahan kecil, yakni penambahan tangga, pembuatan relief serta adanya pembuatan lengkung yang berada di atas pintu masuk candi.

Usai dibangun, diperoleh keterangan dari beberapa prasasti yang menyebutkan bahwa Candi Borobudur ini dimanfaatkan oleh masyarakat Buddha sebagai tempat ziarah dan ibadah.

Konon, Candi Borobudur hanya digunakan dalam waktu yang cukup singkat, yaitu 150 tahun saja. Angka tahun yang tidak sepadan dengan lamanya proses pembangunan. Hal ini disebabkan migrasi besar – besaran yang dilakukan masyarakat Buddha seiring runtuhnya kekuasaan Wangsa Syailendra. Tak ayal, masyarakat Buddha ketika itu terdesak dengan adanya masyarakat Hindu yang dari jumlahnya diketahui lebih banyak dibandingkan orang – orang Buddha.

Setelah migrasi besar – besaran, kaum Buddha yang tinggal di wilayah tersebut hanya sedikit, hingga akhirnya memilih untuk tidak menggunakan Candi Borobudur lagi. Candi menjadi tidak terurus dan mirisnya ada beberapa bagian yang dirusak oleh orang – orang yang tidak bisa menghargai peninggalan bersejarah tersebut.

Sekian lama terabaikan, Candi Borobudur juga tak luput dari serangan alam. Ya, karena tidak terawat, banyak pepohonan besar yang tumbuh di atas candi. Puncak keparahannya adalah saat gunung meletus, abunya menutup dan menimbun seluruh bagian candi. Candi Borobudur terkubur dan hilang.

Candi Borobudur Ditemukan LagiCandi Borobudur terpendam di dalam tanah. Tidak ada yang mengetahui apalagi menyadari bahwa di dalam tanah sana terdapat candi yang sangat bersejarah. Beruntungnya, ada Sir Thomas Stamford Rafless yang pada tahun 1814 M menemukan puing – puing bebatuan yang menurut penelitian sudah berusia tua dan jumlahnya cukup banyak di sekitar wilayah Magelang.

Gubernur Jendral Inggris, Sir Thomas Stamford Rafles ini dulunya merupakan pimpinan Indonesia saat masa perahilan penjajahan dari Belanda ke Inggris yang berlangsung pada abad 1811 M – 1816 M. Karena penemuannya ini, ia digadang – gadang sebagai orang pertama yang berhasil membongkar asal usul Candi Borobudur.

Tak perlu menunggu lama, Ia segera menggerakkan seluruh anak buahnya untuk menggali tanah di sekitar lokasi penemuan bebatuan tua tersebut. Menakjubkan, tumpukan batu besar berbentuk piramida raksasa pun ditemukan. Ia meminta anak buahnya untuk melanjutkan penggalian ini. Tapi langkah ini terhenti karena kesibukan berperang.

Saat Rafless mengalami kekalahan dalam merebut Indonesia dari tangan Belanda, proses penggalian ini dilanjutkan oleh Gubernur Jendral Belanda, Hartman. Tepatnya pada tahun 1835 M, Hartman memerintahkan anak buahnya untuk membersihkan apapun yang menutupi bagian – bagian candi. Hartman sangat terobsesi pada Candi Borobudur ini, sehingga ia pun juga mengupayakan untuk melakukan pembersihan terhadap seluruh bangunan candi.

Pemugaran Candi Borobudur Tahap Pertama

Pemugaran Candi Borobudur Tahap Pertama
Ilustrasi Pemugaran Candi Borobudur Tahap Pertama

Candi Borobudur belum sepenuhnya utuh. Sekalipun sudah dilakukan pembersihan terhadap puing-puing, kayu-kayu besar dan tanah-tanah yang menimbunnya namun ini belum membuat candi terlihat sempurna. Karena sempat tertimbun dan usianya yang tua, membuat bangunan candi mengalami kerusakan di beberapa bagian. Ada yang rusak, hilang dan gompel. Untuk itulah Van Erf, pimpinan Belanda memerintahkan anak buahnya untuk melakukan pemugaran.

Karena pemugaran ini dilakukan dengan alat dan cara ala kadarnya, jadi tidak bisa membuat relief berbentuk mirip seperti aslinya. Sebenarnya pemugaran ini hanya berfokus pada pemindahan bebatuan yang mudah runtuh dan bertujuan agar tidak menimbulkan kerusakan baru di lain hari. Usaha Erf ini layak untuk dihargai, sebab ia telah berusaha menyelamatkan peninggalan bersejarah yang dimiliki Bangsa Indonesi ini.

Pemugaran Candi Borobudur Tahap Kedua

Pemugaran Candi Borobudur
Ilustrasi Pemugaran Candi Borobudur Tahap Kedua

Peninggalan bersejarah ini semakin terabaikan kala kekacauan politik, ekonomi dan militer merebak selama perang dunia pertama. Pemerintah-pemerintah yang semula menguasai Indonesia dan ingin memiliki Indonesia seutuhnya tidak lagi memperdulikan Candi Borobudur yang kaya akan sejarah ini. Bahkan pemerintah Indonesia sendiri pun sepertinya tidak sempat untuk kembali merawat candi ini.

Pada tanggal 10 Agustus 1973, ketika situasi dan kondisi negar berangsur normal, Presiden Soeharto kembali melanjutkan pemugaran. Terdapat 20 prasasti dengan berat 20 ton yang sengaja dibuat dan ditempatkan di sebelah Barat Laut Candi menghadap ke Timur.

Pemugaran dilakukan dengan mengandalkan 600 pekerja, dimana mayoritasnya adalah tenaga muda lulusan STM dan SMA yang sebelumnya sudah dibekali dengan pendidikan dan ketrampilan khusus. 600 orang pekerja ini merupakan putra putri asli bangsa Indonesia. Tidak ada satupun pekerja dari luar negeri.

Bagian candi yang mengalami pemugaran adalah tempat tingkat di bagian bawah yang berbentuk persegi atau Rapadhatu, teras 1, teras 2, teras 3, stupa induk dan kaki candi. Waktu pemugaran cukup lama, yakni sekitar 10 tahun. Pemugaran berhasil diselesaikan pada 23 Februari 1983.

Candi Borobudur Saat Ini Kini, berdasarkan data yang diperoleh tahun 2013, Candi Borobudur yang kaya akan nilai historis tersebut dikunjungi oleh lebih dari 3,5 juta wisatawan setiap tahunnya. Banyak turis lokal maupun mancanegara yang berbondong-bondong untuk melihat kemegahan bangunan ini.

Terdapat penjelasan singkat yang ada pada salah satu bagian candi. Kita dapat menikmati pemandangan alam yang menakjubkan di sekeliling candi. Candi Borobudu peninggalan Dinasti Syailendra itu kini menjadi icon bersejarah, yang akan dan terus dibanggakan oleh Bangsa Indonesia.

Rekomendasi:
Share artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *